APA ITU COLOR THEORY, COLOR SCIENCE

KALACITRA.COM - Fotografi erat hubungannya dengan warna. Hampir setiap fotografer, terutama yang bukan fotografer black & white pernah melakukan color correction atau dalam bahasa Indonesianya koreksi warna. Koreksi warna dilakukan baik karena keterbatasan kamera dalam mereproduksi warna-warna persis seperti yang kita inginkan maupun karena memang ingin memperkuat atau melemahkan kandungan warna tertentu pada foto kita. Alasan lain orang melakukan koreksi warna adalah karena ada perubahan warna ketika kita melakukan konversi mode warna dari RGB ke CMYK dan sebaliknya. Sayangnya tidak semua orang yang melakukan koreksi warna mengerti tentang teori warna. Memang benar, setiap orang boleh dan bisa melakukan koreksi warna walaupun tanpa mengetahui teori warna yang baku. Namun alangkah baiknya jika kita mengetahui sedikit mengenai teori warna yang ada karena sedikit banyak akan membantu kita dalam melakukan koreksi warna. Anda pasti familiar dengan nama ”RGB” dan ”CMYK”.

Tapi apakah anda tahu apa arti dari kedua nama tersebut? RGB sering disebut sebagai warna additive atau warna Tuhan. Hal ini karena warna ini dihasilkan oleh cahaya yang ada. Beberapa alat yang menggunakan color model RGB antara lain: mata manusia, projector, TV, kamera video, kamera digital, dan alat-alat yang menghasilkan cahaya. Proses pembentukan cahayanya adalah dengan mencampur ketiga warna tadi. Skala intensitas tiap warnanya dinyatakan dalam rentang 0 sampai 255. Ketika warna Red memiliki intensitas sebanyak 255, begitu juga dengan green dan blue. Maka terjadilah warna putih. Sementara ketika ketiga warna tersebut mencapai intensitas 0, maka terjadilah warna hitam, sama seperti ketika kita berada di ruangan gelap tanpa cahaya, yang tampak hanya warna hitam. Hal ini bisa kita lihat ketika kita menonton di bioskop tua dimana proyektor yang digunakan masih menggunakan proyektor dengan 3 warna dari lubang yang terpisah, kita bisa melihat ketika film menunjukkan ruangan gelap, cahaya yang keluar dari ketiga celah proyektor tersebut berkurang. Sementara ketika gambar di layar menunjukkan warna dominan dari salah satu dari ketiga warna RGB maka cahaya yang keluar dari celah proyektor hanya kuat di salah satu celah saja. Bagaimana dengan CMYK ? CMYK sering disebut sebagai warna subtractive. Mode warna ini digunakan oleh alat-alat yang mereproduksi warna dengan cairan atau pigmen buatan manusia seperti printer untuk merepresentasikan warna yang diinginkan. Pada awalnya mode warna CMYK berasal dari color model CMY. Ilmuwan warna pada saat itu berusaha menemukan formula yang tepat untuk menemukan mode warna yang bisa menghasilkan warna seperti pada mode warna RGB. Jika warna putih pada RGB dibuat dengan mencampur warna red, green dan blue pada skala maksimal, pada color model CMY warna putih dihasilkan ketika intensitas warna Cyan, Magenta dan Yellow berada pada titik 0%. Hal ini berdasar pada asumsi kertas yang digunakan putih. Maka dari itu anda tidak pernah bisa menghasilkan warna putih dengan printer anda ketika anda menggunakan kertas berwarna.


Sementara dengan RGB apapun warna dasar yang ada bisa berubah menjadi terlihat putih, karena adanya cahaya. Selanjutnya, ketika ilmuwan berusaha membuat warna hitam dengan color model CMY, mereka menemui jalan buntu. Walaupun secara teori dengan mencampur warna cyan, magenta dan yellow pada kadar 100% bisa didapatkan warna hitam, namun pada kenyataannya warna yang didapatkan dengan mencampur ketiga warna tersebut pada kadar maksimal hanya akan mendapatkan warna coklat tua mendekati hitam. Untuk itulah ditambahkan warna black. Dan sejak saat itu mode warna CMY menjadi CMYK. Tapi jangan salah sangka K pada CMYK bukan merupakan singkatan dari Black, melainkan singkatan dari “Key” yang kurang lebih artinya warna tersebut adalah kunci dari masalah tersebut. COLOR BALANCE Mode warna CMY & RGB saling berhubungan dan saling bertentangan. Percampuran warna-warna CMY bisa menghasilkan warnawarna RGB begitu juga sebaliknya. Pengurangan intensitas pada satu warna tertentu akan berakibat pada menambahnya intensitas pada warna lain yang diseberangnya. Hal ini bisa dilihat pada fasilitas color balance di beberapa software seperti Adobe Photoshop. Misalnya, Yellow dengan Blue yang berseberangan, Green dengan Magenta, Red dengan Cyan. Masing-masing pasangan ini berseberangan. Artinya penambahan warna yang satu akan berakibat pengurangan intensitas warna yang ada di seberangnya. Dengan mengetahui color balance ini anda bisa lebih leluasa melakukan color correction.

COLOR GAMUT Bagi anda yang memotret hanya untuk keperluan website, atau hanya dilihat di monitor tentunya anda banyak bekerja pada mode warna RGB karena mode warna itu yang digunakan oleh peralatan semacam itu. Namun bagi anda yang memotret untuk keperluan cetak offset tentunya anda harus mengkonversi warna dari mode RGB ke CMYK. Masalah yang paling banyak terjadi adalah terjadinya distorsi warna atau perubahan warna. Hal ini juga sering kita temui ketika kita mencetak foto kita dengan printer rumahan. Perlu diketahui bahwa tiap color model memiliki keterbatasan menampilkan warna. Singkatnya tidak semua warna yang bisa ditampilkan oleh color model RGB bisa ditampilkan oleh color model CMYK, begitu pun sebaliknya. Warna-warna dengan saturasi tinggi yang bisa ditampilkan dengan bantuan system reproduksi cahaya tentunya tidak bisa ditampilkan oleh CMYK. Keterbatasan menampilkan warna inilah yang disebut dengan color gamut. Dengan mengenali color gamut anda, anda bisa bekerja lebih leluasa bukan ?

Sumber : Majalah Thelight, EDISI VI / 2007

Penyunting Naskah : Ikhwan Fajar Ramadhan